Kamis, Juni 24, 2010

BISMILLAH di sudut nota

Di depan kasir satu,
Mataku terpaku
Aku tercekat pada kenyataan sederhana

Sebuah nota di tanganku
di antara coretan-coretan angka, tanda persen dan kode-kode yang maknanya aku tak tahu
Sepenggal kata tertulis manis di sudutnya

BISMILLAH di sudut nota itu
terkumpul bersama poin-poin yang mesti menyatu
Mungkin akan membawa bahagia di dalam rumahnya

BISMILLAH di sudut nota itu
Dan aku tahu
Bahwa Engkau selalu hadir di tiap jiwa

Senin, Juni 21, 2010

Bersama secangkir kopi hitam

Secangkir kopi hitam itu
Tersaji di depan sebuah lamunan
Asapnya membuyarkan bayangan-bayangan
Aku diam ...

Bandung, Maret Dua-ribu-sepuluh
Dua-puluh-dua ke dua-puluh-tiga
bersama secangkir kopi hitam itu
di dalam kamar dua kali satu-tiga-per-empat
di depan layar yang sama
memainkan jari di tombol-tombol yang sama

Tanpa suara, meski tak henti bersenandung
Di batas hari itu, aku tersenyum,
meskipun tak untuk selamanya

Sabtu, Juni 19, 2010

Panggilan Fajar

Tersadarkan panggilan fajar
Terpaku pada rasa yang jadi tak nyata
Menumpuk beban dan kata-kata
Kini menyimpan diri jauh tertutup layar

Terbuai kedamaian semu saat itu
Membawa jiwa ke ujung harap
Hanya terdiam dengan dada berdegap
Sedangkan mata diam, terpaku

Tanpa kata, tanpa asa

Tanpa ada, tanpa rasa

Tanpa siapa-siapa

Dan jiwa kembali, dalam pelukan fajar

Selasa, Juni 15, 2010

Kidung Sendu Malam

Aku merindukan malam
Aku menantikan saat-saat menyakitkan
Dan aku masih tetap terduduk
Terpaku pada masa-masa penuh senyum palsu

Aku merindukan malam
Aku menantikan jiwa yang melayang-layang
Dan aku terus berkelana
Terpaku menatap rimbunan belukar

Dan malam yang kurindukan menyajikan kidung sendu
Hadir tanpa makna dalam rutinitas menjenuhkan

Aku merindukan malam
Dan entah kapan aku akan menggapai malam
Yang membebaskan
Tersandar dan menenangkan

Aku merindukan malam ...

Rabu, Juni 09, 2010

Malam Ini (2)

Kali ini di atas tujuh nol enam satu
sendiri masuki kota jayabaya sang prabu
berlalu berteman lagu-lagu
Berdendam, melalui malamku

Jejaring maya alihkan hari-hari sulit
Meski benang-benang masih melilit
berharap ada tempat untuk menjerit
Untuk sekedar mengurai jejak yang sakit

Ada tawa yang mengurai bahagia
Ada haru yang mengurai rindu
pun gundah yang terbawa gelisah
Dan khawatir atas kenyataan yang terus terpikir

Dalam penuh keyakinanku akan hadirMu
di jiwa tiap mahluk-mahlukMu
Aku berusaha penuhi harapMu
Untuk tersenyum menerima semua titahMu

Sabtu, Juni 05, 2010

Malam ini

Terdampar satu jiwa berteman instrumen dawai
Mengingatkan langkah panjang yang pernah dilampaui
Raga terbaring kata terurai
Menunggu gejolak di hati yang damai

Saat kata terpecah di malam ini
Belum terluangkan waktu untuk Ia yang tak henti memberi
Dan sedari tadi hanya berlalu tanpa arti
Untuk hati mengikuti langkah jemari