Tersaji di depan sebuah lamunan
Asapnya membuyarkan bayangan-bayangan
Aku diam ...
Bandung, Maret Dua-ribu-sepuluh
Dua-puluh-dua ke dua-puluh-tiga
bersama secangkir kopi hitam itu
di dalam kamar dua kali satu-tiga-per-empat
di depan layar yang sama
memainkan jari di tombol-tombol yang sama
Tanpa suara, meski tak henti bersenandung
Di batas hari itu, aku tersenyum,
meskipun tak untuk selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar