Hai senyum indah di seberang bangku keretaku
Mengapa kau sunggingkan dan ganggu perjalanan malamku
Bandung hingga Kota Malang merayu tanpa berkata
Tak hendak aku mengadu dan heningkan rasa
Gerbong satu malam ini
Menatap sayu merayu hati
Rabu, Desember 22, 2010
Kamis, Juni 24, 2010
BISMILLAH di sudut nota
Di depan kasir satu,
Mataku terpaku
Aku tercekat pada kenyataan sederhana
Sebuah nota di tanganku
di antara coretan-coretan angka, tanda persen dan kode-kode yang maknanya aku tak tahu
Sepenggal kata tertulis manis di sudutnya
BISMILLAH di sudut nota itu
terkumpul bersama poin-poin yang mesti menyatu
Mungkin akan membawa bahagia di dalam rumahnya
BISMILLAH di sudut nota itu
Dan aku tahu
Bahwa Engkau selalu hadir di tiap jiwa
Senin, Juni 21, 2010
Bersama secangkir kopi hitam
Secangkir kopi hitam itu
Tersaji di depan sebuah lamunan
Asapnya membuyarkan bayangan-bayangan
Aku diam ...
Bandung, Maret Dua-ribu-sepuluh
Dua-puluh-dua ke dua-puluh-tiga
bersama secangkir kopi hitam itu
di dalam kamar dua kali satu-tiga-per-empat
di depan layar yang sama
memainkan jari di tombol-tombol yang sama
Tanpa suara, meski tak henti bersenandung
Di batas hari itu, aku tersenyum,
meskipun tak untuk selamanya
Sabtu, Juni 19, 2010
Panggilan Fajar
Tersadarkan panggilan fajar
Terpaku pada rasa yang jadi tak nyata
Menumpuk beban dan kata-kata
Kini menyimpan diri jauh tertutup layar
Terbuai kedamaian semu saat itu
Membawa jiwa ke ujung harap
Hanya terdiam dengan dada berdegap
Sedangkan mata diam, terpaku
Tanpa kata, tanpa asa
Tanpa ada, tanpa rasa
Tanpa siapa-siapa
Dan jiwa kembali, dalam pelukan fajar
Terpaku pada rasa yang jadi tak nyata
Menumpuk beban dan kata-kata
Kini menyimpan diri jauh tertutup layar
Terbuai kedamaian semu saat itu
Membawa jiwa ke ujung harap
Hanya terdiam dengan dada berdegap
Sedangkan mata diam, terpaku
Tanpa kata, tanpa asa
Tanpa ada, tanpa rasa
Tanpa siapa-siapa
Dan jiwa kembali, dalam pelukan fajar
Selasa, Juni 15, 2010
Kidung Sendu Malam
Aku merindukan malam
Aku menantikan saat-saat menyakitkan
Dan aku masih tetap terduduk
Terpaku pada masa-masa penuh senyum palsu
Aku merindukan malam
Aku menantikan jiwa yang melayang-layang
Dan aku terus berkelana
Terpaku menatap rimbunan belukar
Dan malam yang kurindukan menyajikan kidung sendu
Hadir tanpa makna dalam rutinitas menjenuhkan
Aku merindukan malam
Dan entah kapan aku akan menggapai malam
Yang membebaskan
Tersandar dan menenangkan
Aku merindukan malam ...
Aku menantikan saat-saat menyakitkan
Dan aku masih tetap terduduk
Terpaku pada masa-masa penuh senyum palsu
Aku merindukan malam
Aku menantikan jiwa yang melayang-layang
Dan aku terus berkelana
Terpaku menatap rimbunan belukar
Dan malam yang kurindukan menyajikan kidung sendu
Hadir tanpa makna dalam rutinitas menjenuhkan
Aku merindukan malam
Dan entah kapan aku akan menggapai malam
Yang membebaskan
Tersandar dan menenangkan
Aku merindukan malam ...
Rabu, Juni 09, 2010
Malam Ini (2)
Kali ini di atas tujuh nol enam satu
sendiri masuki kota jayabaya sang prabu
berlalu berteman lagu-lagu
Berdendam, melalui malamku
Jejaring maya alihkan hari-hari sulit
Meski benang-benang masih melilit
berharap ada tempat untuk menjerit
Untuk sekedar mengurai jejak yang sakit
Ada tawa yang mengurai bahagia
Ada haru yang mengurai rindu
pun gundah yang terbawa gelisah
Dan khawatir atas kenyataan yang terus terpikir
Dalam penuh keyakinanku akan hadirMu
di jiwa tiap mahluk-mahlukMu
Aku berusaha penuhi harapMu
Untuk tersenyum menerima semua titahMu
sendiri masuki kota jayabaya sang prabu
berlalu berteman lagu-lagu
Berdendam, melalui malamku
Jejaring maya alihkan hari-hari sulit
Meski benang-benang masih melilit
berharap ada tempat untuk menjerit
Untuk sekedar mengurai jejak yang sakit
Ada tawa yang mengurai bahagia
Ada haru yang mengurai rindu
pun gundah yang terbawa gelisah
Dan khawatir atas kenyataan yang terus terpikir
Dalam penuh keyakinanku akan hadirMu
di jiwa tiap mahluk-mahlukMu
Aku berusaha penuhi harapMu
Untuk tersenyum menerima semua titahMu
Sabtu, Juni 05, 2010
Malam ini
Terdampar satu jiwa berteman instrumen dawai
Mengingatkan langkah panjang yang pernah dilampaui
Raga terbaring kata terurai
Menunggu gejolak di hati yang damai
Saat kata terpecah di malam ini
Belum terluangkan waktu untuk Ia yang tak henti memberi
Dan sedari tadi hanya berlalu tanpa arti
Untuk hati mengikuti langkah jemari
Mengingatkan langkah panjang yang pernah dilampaui
Raga terbaring kata terurai
Menunggu gejolak di hati yang damai
Saat kata terpecah di malam ini
Belum terluangkan waktu untuk Ia yang tak henti memberi
Dan sedari tadi hanya berlalu tanpa arti
Untuk hati mengikuti langkah jemari
Senin, April 26, 2010
Semboyan Tiga Lima
Stasiun Malang sore itu
Terpaku di dalam kereta tiga satu
Tubuh lelah memangku
Jiwa yang terbaring layu
Semboyan tiga lima nyaring menjawab seruan empat puluh
Kereta tiga satu berjalan dalam langkah penuh
Dalam raga yang masih berpeluh
Melalui malam liar yang mesti ditempuh
Bayangan tentang tujuan yang mengambang
Tersusun dalam rangkaian aksara yang gersang
Menyampaikan ketidaktahuan yang meradang
Membawa harapan untuk hati kan bijak memandang
Terpaku di dalam kereta tiga satu
Tubuh lelah memangku
Jiwa yang terbaring layu
Semboyan tiga lima nyaring menjawab seruan empat puluh
Kereta tiga satu berjalan dalam langkah penuh
Dalam raga yang masih berpeluh
Melalui malam liar yang mesti ditempuh
Bayangan tentang tujuan yang mengambang
Tersusun dalam rangkaian aksara yang gersang
Menyampaikan ketidaktahuan yang meradang
Membawa harapan untuk hati kan bijak memandang
Jumat, Maret 12, 2010
Doa Malam Ini
Entahlah Tuhan apa masih boleh aku berdoa
Entahlah Tuhan, aku mungkin terlalu nekat bagi-Mu
Tapi aku punya doa pada-Mu malam ini
Aku cuma tak ingin mimpiku sama dengan hari-hari ini
Aku tak kan berlari-lari tanpa pijakan pasti, Tuhan
Kecuali di mimpi, yang Kau beri malam ini
Karena di mimpi malam ini, Tuhan
Aku benar-benar ingin berlari ...
Siapa tahu ada seseorang yang Kau kirim
Untuk sekedar hadir dan menemani
Tuhan, terima kasih untuk kesempatan buat aku
menyampaikan doa ini
Amin ...
Entahlah Tuhan, aku mungkin terlalu nekat bagi-Mu
Tapi aku punya doa pada-Mu malam ini
Aku cuma tak ingin mimpiku sama dengan hari-hari ini
Aku tak kan berlari-lari tanpa pijakan pasti, Tuhan
Kecuali di mimpi, yang Kau beri malam ini
Karena di mimpi malam ini, Tuhan
Aku benar-benar ingin berlari ...
Siapa tahu ada seseorang yang Kau kirim
Untuk sekedar hadir dan menemani
Tuhan, terima kasih untuk kesempatan buat aku
menyampaikan doa ini
Amin ...
Tidak Ada
Tidak ada dia
Tidak ada kita
Tidak ada mereka
Setiap kata hanya ada karena tidak adanya
Teriakan yang tak kan mampu lagi didengungkan
Merajuk, Menangis tanpa tetesan air mata
Tegar yang ditampilkan rupanya tak lebih dari dusta
Tak ada detik
Tak ada detak
Tak ada balasan kata-kata
Kembali dirampas kehidupan dan jatidiri
Nyatakan pesan
Namun tak ada ampunan untuk lalai
Dan malam hening kembali lagi
Tidak ada kita
Tidak ada mereka
Setiap kata hanya ada karena tidak adanya
Teriakan yang tak kan mampu lagi didengungkan
Merajuk, Menangis tanpa tetesan air mata
Tegar yang ditampilkan rupanya tak lebih dari dusta
Tak ada detik
Tak ada detak
Tak ada balasan kata-kata
Kembali dirampas kehidupan dan jatidiri
Nyatakan pesan
Namun tak ada ampunan untuk lalai
Dan malam hening kembali lagi
Jumat, Februari 26, 2010
Tak kan Layu
Rangkaian perjalanan merajut harapan
Derap berat dan ada kalanya kerongkongan tersekat
Duduk diam ketika tubuhku dibawa menembus malam
Kadang terheran menatap jiwa-jiwa di tengah kehidupan
Langkahnya terhambat dibatasi ribuan sekat
Menyimpan dendam yang hanya hinggap di ujung kalam
Peran yang dijalani sering pula lukai nurani
Derai tawa nyatanya adalah untaian luka
Senyum sendu tak kan mampu menyimpan rasa pilu
Saat sendiri raga diami ruang yang sepi
Terpana di tengah suara yang mengawal kata-kata
Kekuatan semu yang merayu kehidupan di tengah belukar nan layu
Derap berat dan ada kalanya kerongkongan tersekat
Duduk diam ketika tubuhku dibawa menembus malam
Kadang terheran menatap jiwa-jiwa di tengah kehidupan
Langkahnya terhambat dibatasi ribuan sekat
Menyimpan dendam yang hanya hinggap di ujung kalam
Peran yang dijalani sering pula lukai nurani
Derai tawa nyatanya adalah untaian luka
Senyum sendu tak kan mampu menyimpan rasa pilu
Saat sendiri raga diami ruang yang sepi
Terpana di tengah suara yang mengawal kata-kata
Kekuatan semu yang merayu kehidupan di tengah belukar nan layu
Rabu, Februari 10, 2010
Untuk Dewi Fajar Kami
Setelah sang Kahuripan menembus gelap bumi Pasundan
Buaian malam hanya menutup sejenak mata yang sebentar-sebentar terganggu
hingga di bumi Sriwedari kutinggalkan puspa untuk Dewi Fajarku
Kini aku memasrahkan raga di helaan Sri Tanjung nan jelita
Kuda-kuda besi perkasa milik para jelata tlah membawa raga dan pikiran nan lelah
Perlahan, lalu kembali ...
Meninggalkan nama penuh cinta, Fajaria Nawa Januari ...
Buaian malam hanya menutup sejenak mata yang sebentar-sebentar terganggu
hingga di bumi Sriwedari kutinggalkan puspa untuk Dewi Fajarku
Kini aku memasrahkan raga di helaan Sri Tanjung nan jelita
Kuda-kuda besi perkasa milik para jelata tlah membawa raga dan pikiran nan lelah
Perlahan, lalu kembali ...
Meninggalkan nama penuh cinta, Fajaria Nawa Januari ...
Langganan:
Postingan (Atom)