Rabu, April 13, 2011

Seuntai rambut yang tergerai

Ada seuntai rambut tergerai selapis
Di samping matanya yang menatap manis
Terurai bersama senyum pada bibir yang tipis

Hai teruni jelita yang hadir dalam mimpi
Kau tak henti membelenggu hati yang menanti
Aku menunggu ketika detik masa terus berlari

Lalai terbuai dalam impian
Tak hendak aku terjatuh di buai harapan
Di tengah kepasrahan aku tersadarkan

Sabtu, April 09, 2011

Warung di tengah hujan

Sebuah warung menyala terang di dalamnya
Entah oleh petromaks berbahan-bakar minyak, ataukah oleh pijar lampu listrik yang tlah terangi desanya
Aku hanya mengerti penjualnya berlindung di hempasan badai sore ini
Berharap satu-dua pembeli yang hendak menepi

Mungkin saja aku cuma terlalu terhanyut, bisa jadi ia sebenarnya hanya berlindung
Sekedar membuka lapaknya karena tak mungkin ia pulang di tengah cuaca ini
Aku hanya tahu satu kesendirian
Warung di tengah hujan dengan nyalanya yang gembira

Rabu, April 06, 2011

Laguku tak lagi bernyanyi

Duduk di sebuah bangku tanpa sandaran

Lelaki yang berdendang diam, namun pelan

Sajikan ironi-ironi untuk sekedar melengkapi hidupnya


Dan, hai ... Aku hanya sempat menyaksikan ia melambaikan tangannya

Entah, aku tak tahu bilakah ia telah menyerah dan hentikan nyanyian diamnya

Atau sekedar membiarkan ironi-ironi untuk ia bagikan dengan senyumnya yang sepi


Semakin terkantuk aku untuk menyelami rasa ingin tahu

Ketika ia tersadar pada sekitarnya yang telah hening

Ia bernyanyi kembali, masih dalam nyanyian yang diam


Kali ini sayup nadanya tersampaikan

Meskipun getir, laguku teruntai manis dalam nyanyian diamnya

Dan aku tahu terlalu sulit bagiku untuk nyanyikan kembali


Aku hanya memberikan senyuman untuk laguku yang tersampaikan

Meski lagu itu tak lagi bernyanyi

Dan tersampaikan damai di dalam diam

Sabtu, Februari 12, 2011

Adinda

Wahai dua adinda yang tlah berkelana di mimpi indah

Tak hendak aku terdiam melihat kalian dihempas gelisah

Tak mampu sampaikan rasa tanpa dihinggapi gundah

Merajuk kepada malam untuk sekedar mengurai resah


Wahai dua adinda yang terpaku

Tak hendak aku berlaku bak seorang Guru

Tak mampu aku sekedar hadirkan ceritaku

Merajuk sendiri aku di hadapan sembilu


Layaknya lagu sendu yang masih mengalun

Aku terjebak kata yang masih terayun-ayun

Kaupun berhasrat mengadu dalam lamun

Yang tak mampu temukan arti yang tersirat di hamparan tahun ...


=========================


Bandung, 13 Februari 2011 - 01:25

Dedicated to my two young brother & sister ... Let's make it flow guys ... ^.^

Rabu, Desember 22, 2010

Senyum di Seberang Bangku

Hai senyum indah di seberang bangku keretaku
Mengapa kau sunggingkan dan ganggu perjalanan malamku

Bandung hingga Kota Malang merayu tanpa berkata
Tak hendak aku mengadu dan heningkan rasa

Gerbong satu malam ini
Menatap sayu merayu hati

Kamis, Juni 24, 2010

BISMILLAH di sudut nota

Di depan kasir satu,
Mataku terpaku
Aku tercekat pada kenyataan sederhana

Sebuah nota di tanganku
di antara coretan-coretan angka, tanda persen dan kode-kode yang maknanya aku tak tahu
Sepenggal kata tertulis manis di sudutnya

BISMILLAH di sudut nota itu
terkumpul bersama poin-poin yang mesti menyatu
Mungkin akan membawa bahagia di dalam rumahnya

BISMILLAH di sudut nota itu
Dan aku tahu
Bahwa Engkau selalu hadir di tiap jiwa

Senin, Juni 21, 2010

Bersama secangkir kopi hitam

Secangkir kopi hitam itu
Tersaji di depan sebuah lamunan
Asapnya membuyarkan bayangan-bayangan
Aku diam ...

Bandung, Maret Dua-ribu-sepuluh
Dua-puluh-dua ke dua-puluh-tiga
bersama secangkir kopi hitam itu
di dalam kamar dua kali satu-tiga-per-empat
di depan layar yang sama
memainkan jari di tombol-tombol yang sama

Tanpa suara, meski tak henti bersenandung
Di batas hari itu, aku tersenyum,
meskipun tak untuk selamanya

Sabtu, Juni 19, 2010

Panggilan Fajar

Tersadarkan panggilan fajar
Terpaku pada rasa yang jadi tak nyata
Menumpuk beban dan kata-kata
Kini menyimpan diri jauh tertutup layar

Terbuai kedamaian semu saat itu
Membawa jiwa ke ujung harap
Hanya terdiam dengan dada berdegap
Sedangkan mata diam, terpaku

Tanpa kata, tanpa asa

Tanpa ada, tanpa rasa

Tanpa siapa-siapa

Dan jiwa kembali, dalam pelukan fajar

Selasa, Juni 15, 2010

Kidung Sendu Malam

Aku merindukan malam
Aku menantikan saat-saat menyakitkan
Dan aku masih tetap terduduk
Terpaku pada masa-masa penuh senyum palsu

Aku merindukan malam
Aku menantikan jiwa yang melayang-layang
Dan aku terus berkelana
Terpaku menatap rimbunan belukar

Dan malam yang kurindukan menyajikan kidung sendu
Hadir tanpa makna dalam rutinitas menjenuhkan

Aku merindukan malam
Dan entah kapan aku akan menggapai malam
Yang membebaskan
Tersandar dan menenangkan

Aku merindukan malam ...

Rabu, Juni 09, 2010

Malam Ini (2)

Kali ini di atas tujuh nol enam satu
sendiri masuki kota jayabaya sang prabu
berlalu berteman lagu-lagu
Berdendam, melalui malamku

Jejaring maya alihkan hari-hari sulit
Meski benang-benang masih melilit
berharap ada tempat untuk menjerit
Untuk sekedar mengurai jejak yang sakit

Ada tawa yang mengurai bahagia
Ada haru yang mengurai rindu
pun gundah yang terbawa gelisah
Dan khawatir atas kenyataan yang terus terpikir

Dalam penuh keyakinanku akan hadirMu
di jiwa tiap mahluk-mahlukMu
Aku berusaha penuhi harapMu
Untuk tersenyum menerima semua titahMu